March 21, 2020

Omnibus Law hingga Corona; Geram Tidak Mundur

Telah bergabung berbagai unsur gerakan rakyat dalam satu gerakan dan satu capaian yaitu menolak kebijakan negara terkait RUU Cika Omnibus Law yang kemudian disebut Geram (Gerakan Rakyat Menolak) Omnibus Law. Dimulai dengan pembacaan atas kebuntuan dalam gerakan hari ini yang hanya terkesan bersifat momentuman , maka dari itu muncul inisiatif untuk membuka ruang baru dengan berusaha membangun komunikasi secara terbuka dengan berbagai unsur gerakan mulai dari serikat buruh, mahasiswa, ormas, maupun NGO.

Dengan munculnya isu Omnibus Law, unsur-unsur tersebut terus melakukan konsolidasi baik secara internal maupun eksternal guna membahas hal-hal yang dianggap perlu dilakukan untuk menyikapi isu tersebut. Dari dialog publik untuk penyebarluasan wacana hingga aksi langsung guna menyisir perusahaan-perusahan yang dianggap “nakal” terhadap pekerja.

Dokumentasi Geram

Dengan jumlah kurang lebih 36 organ dalam aliansi, Geram tetap membuka ruang persatuan dengan aliansi yang ingin bergabung. “Geram selalu menundukan persoalan dengan prinsip-prinsip persatuan, sekalipun kami sudah mencoba mendatangi aliansi-aliansi atau mengajak lembaga-lembaga untuk bergabung tapi ditolak kita tetap semangat, mungkin itu yang dinamakan proses. Yang pasti Geram dan unsur-unsur di dalamnya tidak akan pernah berhenti menyuarakan yang namanya persatuan yang merupakan prinsip dan harga mati bagi kaum gerakan, dan tidak akan hilang ditelan zaman, ruang dan waktu” ujar sartono salah satu yang terlibat dalam aliansi.

Dokumentasi Geram

Tidak hanya sampai RUU Cika saja, Geram juga menghimbau social distance atau tindakan pencegahan lainnya kepada para pekerja, yang tidak diberlakukan oleh perusahaan-perusahaan dalam menyikapi Isu internasional yang mengancam kesehatan seluruh penduduk dunia yaitu Covid-19 (baca: Corona) yang sudah masuk di Indonesia. Dalam hal ini, aliansi melakukan audiensi dengan Dinas terkait untuk melakukan tindakan pencegahan virus, tetapi sekali lagi pihak pemerintah menunjukkan sikap lambannya dalam menyikapi sebuah permasalahan.

Merebaknya virus corona tidak menjadi penghambat gerakan aliansi, hal itu dapat dilihat dengan dibangunnya posko peduli corona di kawasan PT. KIMA Makassar yang sekaligus juga menjadi posko propaganda untuk menyikapi kebijakan rezim hari ini yang cenderung mengesampingkan kepentingan kelas pekerja. Dengan melihat kondisi diskriminasi rezim terhadap kelas pekerja, maka Geram membawa tuntutan terhadap rezim untuk segera:

  1. Menghentikan seluruh aktivitas pekerja di pabrik
  2. Liburkan seluruh kelas pekerja
  3. Berikan perlindungan kesehatan gratis untuk seluruh kelas pekerja.

kelas pekerja dan seluruh unsur gerakan rakyat teruslah memperkuat solidaritas guna bergerak memperjuangkan pembatalan Omnibus Law RUU Cipta Kerja, serta marilah lebih kritis lagi dalam melihat realitas sosial yang ada, dengan tidak mengesampingkan keselamatan dan kesehatan diri dan masyarakat dalam situasi pandemi COVID-19 hari ini.

SHARE:
Berita Advokasi, Straight News 0 Replies to “Omnibus Law hingga Corona; Geram Tidak Mundur”