July 15, 2020

DARI ‘NEW NORMAL’ (TANPA FASE LIMINAL) KE ‘KEBIASAAN BARU’

Berita terbaru media mewartakan akan diubahnya istilah ‘new normal’ dengan istilah lain karena dinilai sulit dipahami warga. Penggunaan Bahasa Indonesia dinilai lebih mudah dipahami (Berita YouTube TribunKaltim berjudul Pemerintah Mengaku Salah Soal New Normal, Bakal Dihapus dan Diganti dengan Istilah Baru).

Sumber Gambar :Tribun Kaltim

Dalam benak kecilku, bergumam,
“Ya, Tuhan…. barukah disadari?

”Benarkah hanya perubahan istilah saja dari “New Normal” ke ‘kebiasaan baru’?
Apakah benar hanya sekedar tidak ada perubahan mendasar pada kebijakan?“

“Lalu, bagaimana dengan fase ‘liminal’?Akankah tetap diabaikan?

Oh my God, forget it!
Lupakan saja? Tidak perlukah hal ilmiah tersebut dibahas?“

Bagaimanapun, demi mencerdaskan kehidupan bangsa, kita perlu mengulasnya lebih jauh dengan akal budi yang sehat dan jujur.

DENIAL DAN SPECTACLE : PENGINGKARAN DAN KEPENONTONAN

Masyarakat akhir-akhir ini bisa dikata disuguhi tontonan yang jauh dari harapan hidupnya di tengah krisis pandemi. Begitulah kiranya penanda kalau orang suka menghindari rasa sakit, masa sulit, dan ingin cepat cepat mengabarkan pada dunia via spectacle(kepenontonan) bahwa saya, kami, kita, baik- baik saja gaes. Tidak usah panik.

Secara psikologis, tindakan seperti ini bernama ‘denial’ — menolak, mengingkari kenyataan. Tidak ingin kelihatan susah, tidak berani menjalani penderitaan sebelum masuk ke fase yang stabil atau ‘normal baru’. Orang seperti ini sudah pasti sulit diajak berlayar mengarungi lautan Benua Maritim Indonesia. Gampang ‘mabut’ kalau diguncang ‘ombat’.  Sulit diajak susah.

Intinya, dunia kepenontonan (spectacle) adalah dunia yang dekat dengan ‘pencitraan’. Itu saja. The will to be watched and recognized — keinginan / hasrat untuk ditonton dan diakui banyak orang, khususnya di media massa dan media sosial. Sebuah penyakit psikologis (kejiwaan) manusia (post-) modern abad ke-21.

Ibarat menjalani krisis dan rasa sakit, apa yang disampaikan pada berita TribunKaltim terbaru tentang rencana mengubah istilah ‘new normal’ menjadi ‘kebiasaan baru’ mempertontonkan ‘penolakan dan pengingkaran baru’ atas kenyataan. Melompat ke fase selanjutnya karena menolak masuk ke fase ‘krisis’ dan fase menuju puncak/ ‘klimaks’. Menolak untuk sengsara dan menderita karena imej di depan layar bisa jatuh, dan ‘zona nyaman’ yang terlanjur ‘hedon’ bisa hilang.

***
Sedari awal, saya selaku pembelajar dan pengkaji budaya — untuk menegaskan tidak / belum pantas disebut sebagai ilmuwan atau ahli budaya — menegaskan bahwa penting pengambil kebijakan dan keputusan di negeri ini melibatkan ahli masyarakat dan ahli budaya. Kenapa? Karena merekalah yang paham ilmu mengenai masyarakat berikut persoalan – persoalannya. Penting juga memasang orang yang dapat dipercaya oleh masyarakat dalam menyampaikan himbauan kepada masyarakat. Bagaimanapun, kalau kita mengenal karakter masyarakat kita, akan diketahui bahwa masyarakat kita faktanya masih mendengar siapa yang mereka percayai dan tak jarang menolak patuh pada mereka yang tak dipercaya. Pemerintah atau aparat negara sekalipun, seperti yang disampaikan Nirwan Arsuka pada suatu webminar beberapa hari yang lalu.

Prinsip dasarnya adalah serahkan suatu permasalahan kepada ahlinya. Bukankah demikian memang sepantasnya? Bukan diserahkan kepada yang ‘ahli- ahlian’ hanya karena berbekal kedekatan dan popularitas. Hasilnya pasti kacau!

Karena, prinsipnya adalah kondisi krisis hanya bisa ditangani oleh orang yang benar – benar ahli dan berpengalaman.

Masalahnya adalah: bagaimana kalau krisis itu sendiri dihindari, diingkari?

Jawabannya adalah: pasti lebih kacau, titik!

Kenyataannya sekarang adalah: kacau kah kita?

Jika ya, silahkan menilai.
Jika tidak, apa pembenarannya?
Bisa kah diterima publik dan akal budi  yang jujur?

MELOMPATI FASE LIMINAL

Mari kembali ke soal liminalitas, kentara betul para ahli ilmu humaniora (Ilmu-ilmu kemanusiaan), ahli masyarakat (sejarah dan sosiologi), ahli budaya (antropologi, kajian budaya) tidak atau kurang dilibatkan. Strategi kebudyaaan dan taktik sosial dalam mengurusi pagebluk kurang jalan, bahkan bisa dinilai kacau balau. Bahasa dan komunikasi publiknya? Apalagi. Bahkan ada yang bilang amburadul.

Kembali ke liminal, apa itu?
Ini adalah fase dari krisis menuju stabil (kembali). Saya menghindari kata ‘normal’ di sini.

Kalau anda pernah belajar fisika, khususnya teori parabola pada benda yang di lemparkan ke udara, fase liminal adalah fase yang diibaratkan gerak benda ke atas di titik sebelum berada pada posisi puncak. Titik puncak tersebut disebut titik maksimum.

Nah, dalam fisika, sebelum fase maksimum, dikenal titik optimum. Yakni, titik/fase dimana sebuah subjek berada pada satu fase menuju maksimum. Orang biasa bilang, usahamu sudah optimal, tapi belum (sampai pada titik) maksimal. Tinggal selangkah lagi. Di titik optimal inilah menjadi penentu, apakah sebuah benda mampu memasuki fase puncak maksimum atau berhenti pada titik optimum. Jika ya, jadi klimaks, jika tidak, jadi anti-klimaks alias gagal menuju puncak.

Dalam fiksi atau cerita drama dikenal teori alur (plot). Ada lima proses alur secara umum: beginning — rising action /crisis/ conflict — climax — cooling down — ending(awal cerita — krisis/konflik — klimaks — pendinginan — akhir cerita). Dari teori alur di atas dapat dilihat bahwa pengingkaran dan penolakan terhadap krisis, konflik dan titik optimum adalah pengingkaran terhadap ‘proses hidup’. Sementara pengingkaran terhadap proses hidup berpotensi menghasilkan kualitas hidup yang ‘prematur’— kacau bin balau. Anti-klimaks bilangnya penonton bioskop atau pecinta novel. Konflik sudah mau sampai puncak, tiba tiba tidak jadi, gagal menuju klimaks.

***
Fase liminal adalah fase yang ada di titik ‘raising action’, di fase krisis, di fase penuh konflik menuju klimaks. Memang butuh energi dan kesiapan lahir batin untuk menjalaninya. Fase liminal adalah takdir hidup yang mesti dijalani jika ingin ke puncak hidup. Mengingkari dan menolaknya hanyalah menunda waktu semata. Cepat atau lambat, masalah dan krisis hidup itu akan datang lagi. Jadi, yang dibutuh adalah kesiapan menjalani, bukan pencitraan karena menghindari.

Ibarat bawang, kulit kulitnya akan terkupas habis ketika memasuki fase liminal, fase dimana ambang batas kemampuan dikuras (sampai titik optimum), sebelum tiba di titik maksimum (klimaks) lalu ke ‘cooling down’ (menuju hidup baru). Tak ada kehidupan baru tanpa melewati fase liminal dan klimaks.

Di cerita heroik dikenal ‘hero’s journey’— perjalanan kepahlawanan. Disitu ada fase krisis, frustasi, hingga klimaks dari proses seorang tokoh jadi ‘hero’. Tak ada hero tanpa melewati krisis dan ujian hidup yang berat. Hero adalah kupu kupu yang berproses panjang, bukan ular yang hanya bisa berganti kulit di tempat gelap dan tersembunyi.

Jadi, fase liminal ini adalah fase penempaan. Fase pengujian menuju puncak kesuksesan dan Ke ikan tan dari sebuah proses. Tak bisa sebuah awal krisis langsung lompat ke ‘normal baru’ tanpa melewati fase liminal dan klimaks . Pun jika dipaksakan tanpa kedua fase ini, hasilnya bisa ditebak, pasti prematur.

***
Dalam ilmu medis, membaca tulisan teman yang seorang dokter, tulisan itu bilang bahwa orang – orang suka menghindari rasa sakit. Sakit itu sendiri memiliki beberapa tingkatan: pain-(sakit), suffering (penderitaan) dan misery (sengsara). Meski perempuan dewasa sebenarnya tak dapat lari dari rasa sakit ini setiap bulan. Mungkin itu sebabnya pemimpin – pemimpin perempuan di dunia dewasa ini lebih berhasil mengatasi pandemi covid-19 ketimbang beberapa pemimpin laki – laki. Sudah terbiasa menjalani dan melewati ‘rasa sakit’. Terbiasa pula melewati fase liminal.

Pengingkaran terhadap rasa sakit bisa jadi menyebabkan obat anti nyeri jadi laris. Kemudian, bagi perempuan yang akan melahirkan, seringkali kata kawan saya ini, meminta untuk di-sesar karena rasa sakit yang barangkali sudah menuncak. Padahal, masih kata kawan saya dalam tulisannya tersebut, dalam Ilmu Kedokteran, rasa sakit itu adalah hal yang memang wajar dan demikian adanya. Rasa sakit itu adalah sebuah proses yang harus dijalani dan dilewati sang Ibu ‘demi’ kehidupan baru sang bayi yang sehat dan agar tidak terlahir prematur.

Kata Ilmu Kedokteran lagi, jangan karena menolak rasa sakit, maka kehidupan sang bayi dipertaruhkan, dan akhirnya jadi ‘prematur’, tak sehat karena melompati ‘proses’ hidup sebelum hadir ke bumi. Padahal, itulah pengorbanan seorang ibu yang tak terkira demi jalan hidup putra – putrinya.

REFLEKSI KRITIS DI TENGAH KRISIS

Nah, menjalani krisis di tengah pandemi juga sepantasnya juga demikian. Belajarlah dari teori parabola fisika, teori alur dan hero’s journey sastra, dan teori rasa sakit ilmu  kedokteran, serta teori liminal antropologi – sosiologi. Belajarlah pada ahlinya. Percayakan pada ahlinya, jangan kepada yang ‘ahli-ahlian’ di medsos dan medmass saja. Itu hanya ahli pencitraan. Bukan ahli sesungguhnya.

Right man in the right place”— orang tepat di tempat yang tepat.

Terakhir, berhentilah lari, menolak, dan menghindar dari masalah. Hadapi krisis, konflik, dan persoalan dengan cerdas dan berani. Berhenti ‘mencle mencle’ demi pencitraan. Karena, manusia, utamanya pemimpin akan diuji oleh krisis ibarat bawang dikupas kulitnya satu demi satu. Aslinya akan ketahuan juga pada ujungnya.
Anda pemimpin otentik atau bukan? Disitu, pencitraan tiada guna lagi, malah berpotensi jadi tertawaan dan olok – olokan. Percayalah!

***

Akhirnya, saya ingin katakan, jika terlanjur melompati proses dari yang sepantasnya, kembalilah ke fase liminal dulu, lalu masuk kembali ke krisis yang dihindari sebelumnya. Nikmati proses menuju klimaks, bukan malah menghindari konflik apatahlagi jadi anti-klimaks, tapi tiba tiba langsung ingin ke ‘hidup baru’. Selain terkesan terburu – buru dan takut susah, juga berpotensi jadi bumerang. Bagaimanapun krisis di era pandemi adalah satu sisi mata uang. Mesti dihadapi, dijalani, dan dilewati.

Jadilah kupu – kupu indah yang berproses panjang sejak dari ulat. Jangan jadi ular yang senangnya sembunyi sembunyi untuk berganti kulit saja secara instan. Lalu, keluar dengan ‘kulit’ baru, tapi tetap sebagai ular.

Itulah hukum hidup dari proses. Menghindarinya adalah cermin dari ‘pengingkaran’ terhadap takdir hidup ‘normal’ — yang justru alamiah dan manusiawi itu sendiri.

Tentu kita tidak ingin keluar dari krisis pandemi ini sebagai bangsa yang terlahir (kembali) secara ‘prematur’, bukan?

Kita ingin terlahir (kembali) sebagai bangsa yang lahir ‘normal’ setelah sang Ibu melewati rasa sakit dan rasa nikmat di fase liminal.

———

Arul Nash
Pembaca Buku dan Analis Media

Berita pernah dibuat di lintasfokus.com

SHARE:
Berita Advokasi, Feature News 0 Replies to “DARI ‘NEW NORMAL’ (TANPA FASE LIMINAL) KE ‘KEBIASAAN BARU’”